Kembali ke Blog
·oleh Andi Irsandi Ramadani

Apa yang Saya Bawa dari Hackathon ke Kerja Produksi

Menang hackathon terasa cepat. Mempertahankan produk di produksi terasa lambat. Saya memilah mana kebiasaan lomba yang harus dibuang, dan mana yang tetap menolong.

Daftar juara bukan portofolio yang cukup

Saya pernah menang atau menjadi finalis di beberapa kompetisi: Microsoft Online Hackathon 2025 bersama Dicoding, IDCamp, Baparekraf Digital Challenge, ALE Geek Battle, dan lomba kampus. Itu membuka pintu. Itu tidak mengajar saya merawat sistem yang hidup selama setahun.

Hackathon melatih kecepatan merangkai cerita: masalah, demo, dampak. Kerja produksi melatih kecepatan menolak cerita yang belum punya data. Keduanya berguna jika tidak tertukar.

Kebiasaan lomba yang saya buang

  • Fitur untuk juri. Di lomba, satu visual spektakuler menang. Di produksi, satu alur yang selesai lebih berharga.
  • Data palsu yang terlalu rapi. Demo dengan seed sempurna menyembunyikan validasi. Pengguna nyata mengetik apa saja.
  • Tidak ada operasi. Siapa yang reset password? Siapa yang mengoreksi transaksi? Jika jawabannya “nanti”, itu belum produk.

Kebiasaan lomba yang saya simpan

Batas waktu memaksa memotong lingkup. Saya masih memakai itu. Jika sebuah rilis tidak bisa dijelaskan dalam satu kalimat kepada orang yang akan memakainya besok, lingkupnya masih sombong. Hackathon juga melatih kerja berpasangan dalam tekanan: siapa yang menulis, siapa yang menguji, siapa yang berbicara.

ALE Geek Battle, yang berfokus backend, mengingatkan saya bahwa API yang jelas adalah demo yang sesungguhnya. Jika kontrak data berantakan, UI seindah apa pun hanya menutupi.

Cara saya memakai lomba sekarang

Saya tidak mengejar lomba untuk menambah baris di halaman prestasi. Jika saya ikut, saya memakai soal yang dekat dengan pekerjaan yang sudah saya pahami: pendidikan, kesehatan, operasional. Menang dengan ide yang tidak bisa saya rawat terasa kosong.

Di kelas Python, saya kadang memakai format “mini hackathon” dua jam. Tujuannya bukan juara. Tujuannya agar siswa merasakan: pilih masalah kecil, buat yang jalan, ceritakan apa yang gagal. Itu lebih jujur daripada proyek seminggu yang disalin.

Kesimpulan

Prestasi kompetisi adalah bukti bahwa saya bisa merangkai solusi cepat. Catatan di blog ini, dan produk yang masih saya rawat, adalah bukti yang lebih penting: saya bisa tinggal bersama masalah setelah lampu lomba padam. Jika Anda punya piala hackathon, tulis juga apa yang tidak bertahan setelah hari ketiga. Tulisan itu lebih berguna bagi pembaca — dan bagi reviewer yang mencari konten bernilai, bukan daftar lomba.