Dari Gealileo ke Bidio: Membangun Produk Procurement di Dua Negara
Saya mengerjakan frontend procurement untuk Telkom, lalu bertahun-tahun kemudian masuk ke analitik tender Australia. Proses belinya berbeda; yang sama adalah harga kesalahan data.
Procurement kelihatan membosankan sampai Anda salah angka
Pengalaman procurement saya dimulai di PT Solusi Konvergen Indonesia, assigned ke Telkom, pada platform Gealileo. Bertahun-tahun kemudian, di PT Wolkk Cloud Development, saya mengerjakan produk Procure Spot untuk pasar Australia: Bidio untuk analitik tender dan ScaleTrac untuk eksekusi pertumbuhan. Dua dunia. Satu pelajaran berulang: orang memakai sistem ini untuk memutuskan uang.
Di Gealileo, pekerjaan saya berpusat pada frontend dan integrasi API. Pengguna adalah orang yang mengurus anggaran dan proses pengadaan. Mereka tidak memuji transisi halaman. Mereka marah jika status dokumen tidak sesuai dengan yang mereka ingat dari rapat kemarin.
Apa yang berubah di pasar Australia
Bidio menolong tim menavigasi tender pemerintah, melihat kompetitor, dan menyusun strategi bid. ScaleTrac menolong mengeksekusi rencana: KPI, scorecard, rocks. Bahasa produknya lebih “growth”. Isinya tetap disiplin: data harus bisa ditelusuri, filter harus masuk akal, dan dashboard tidak boleh menjadi poster.
Saya memimpin revamp frontend ScaleTrac dan rewrite Bidio dengan React dan Tailwind, plus pekerjaan backend Django dan integrasi Stripe serta Zoom. Rewrite di sini punya alasan yang sama dengan DBO: UI lama menahan kecepatan tim. Bedanya, pengguna Bidio membandingkan intel kompetitor. Jika tabel menyesatkan, strategi bid ikut menyesatkan.
Yang sama di Jakarta dan di klien Australia
- Orang tidak membaca tooltip. Mereka membaca kolom yang paling tebal.
- Filter yang “pintar” tetapi tidak bisa dijelaskan akan diabaikan.
- Integrasi pihak ketiga (pembayaran, rapat, ekspor) gagal di tepi, bukan di happy path.
Karena itu saya menguji layar dengan skenario jelek: tender tanpa tanggal jelas, kompetitor dengan nama mirip, KPI yang belum diisi, pembayaran yang pending. Produk procurement yang hanya diuji dengan data rapi akan kelihatan hebat sampai minggu kedua pemakaian.
Komunikasi real-time bukan fitur hiburan
Integrasi Zoom di ekosistem ini bukan untuk terkesan modern. Tim yang mengurus tender perlu bicara di konteks yang sama dengan data yang mereka lihat. Jika tautan rapat terpisah dari record pekerjaan, orang kembali ke chat acak dan keputusan hilang.
Kesimpulan
Dari Gealileo ke Bidio, saya belajar bahwa domain “kering” justru menuntut ketelitian UI paling tinggi. Jika Anda mengerjakan dashboard keuangan, pengadaan, atau analitik kompetitor, perlakukan setiap sel tabel seperti janji. Janji yang pecah di domain ini harganya lebih mahal daripada bug di halaman pemasaran.